Senin, 07 September 2015

Akihabara, New Life



新しい人生の秋葉原
Atarashi Jinsei no Akihabara
Akihabara, New Life


Topic : Memories In Akihabara
Main Genre : Life
Support Genre : Friendship, School, absurd comedy, Love or Soft Romance
Cast : I. Akashi Seijurou as Akashi Miyanoshita (Kuroko no Basuke anime)
         II. Soru (OC)
        III. Kayako Miyanoshita as Akashi’s Mom (Gakkou No Kaidan anime)
       IV. Reiichirou Miyanoshita as Akashi’s Father (Gakkou No Kaidan anime)
      V. Sumire Ichioka as Sumire (Precious 49 Days manga)
      VI . Mitsuhiro Toyomura as Mitsuhiro (Precious 49 Days manga)
     VII. Himeko Sakura as Hime (Give Me All Your Love manga)
     VIII. Hwang Mingu as Mingu (Want You manga)
     IX. Tenko as Tenko (God Family J-novel)
Author : Cogan
Summary :
Soru adalah gadis 6 tahun yang ditemukan depan Stasiun Akihabara oleh Akashi dan Sumire. Sumire yang dibonceng oleh Akashi merasa tak tega dan membujuk anak lelaki dingin itu untuk mengajak Soru pulang bersama mereka. Soru akhirnya ikut Akashi dan Sumire. Akashi dan Sumire tidak langsung melapor kepada orang tua mereka! Mereka membawa Soru ke lapangan sore. Disana Soru bertemu dengan teman-teman Akashi dan Sumire. Dari sinilah kehidupan baru Soru dimulai.

Lalu, bagaimana dengan asal-usul Soru dan masa depannya di keluarga baru?

Hikari No Matsuri 2015



   Loha, postingan blog gue kali ini tentang Fanfiction (FF) gue yang (Alhamdulilah) menang juara 3 di event Hikari No Matsuri (Hinotsu) 2015. cc : https://twitter.com/hinotsu2015 atau https://hinotsu.blog.fc2.com
Event ini diadakan tiap tahun oleh eskul Japanese Club SMA N 44 JAKARTA yang bernama Hikari. thats why, nama event nya Hikari No Matsuri. udah panjang kan? yaudah lanjut ke FF gue yak :v

---------------

   “Akashi-kun, berhenti dulu!!” gadis kecil dengan dua kepangan itu menepuk bahu bocah lelaki yang lebih tua darinya. Akashi mengerem sepedanya malas.
       
   “Lihat itu, disana” Sumire memutar pelan kepala Akashi yang menatap kosong jalan. Dirasanya jalan itu lebih menarik dari pada sosok yang diuringkan Sumire.
      
    Bocah perempuan seumuran Sumire sedang menangis depan stasiun Akihabara. Orang-orang berlalu lalang tidak peduli. Wajahnya sudah banjir airmata, amat merah dan pakaiannya kusut tidak berbentuk.
   
   “Sudah sore, kita harus pulang sekarang” Akashi bersiap mengayuh sepedanya lagi tanpa peduli dengan sosok yang ditunjuk Sumire sejak tadi.

      “Ih kau ini tega sekali! Ayo ajak dia bersama kita!” Sumire mengguncang bahu Akashi. Akashi masih tidak bergeming. Mereka adalah dua orang dengan sifat yang amat bertolak belakang. Sumire akan bersikeras mendapat apa yang ia mau.

      “Ya sudah, kalau begitu aku saja yang akan mengajaknya!” Sumire turun dari jalu sepeda Akashi kemudian berlari menghampiri anak yang menangis depan stasiun Akihabara. Akashi masih diam di sepedanya. Ia tahu, ia tidak akan mampu melarang Sumire.

      “Kau kenapa?, Kenapa menangis?” Suara lembut Sumire menghentikan tangis anak tersebut.

      “Namamu siapa?” tanya Sumire lagi.

      “Soru” suara serak perempuan kecil itu sangat lemah.

      “Jangan menangis lagi Soru. Aku akan menjadi temanmu. Ayo ikut kami! Lihat disana ada Akashi! Tapi kau harus berhati-hati dengan dia, dia seperti mayat hidup yang pelit senyum dan bicara!” Sumire berbicara dengan nada dibuat-buat.

      Soru tersenyum. Ketakutan dirinya perlahan memudar, airmatanya mulai mengering menyisakan sentuhan lengket di area yang tersentuh airmata. Soru ikut melangkah bersama Sumire. Akashi mengayuh sepedanya mengiringi dua gadis kecil itu.
--------------- 

      ”Wah, lihat matanya lucu sekali!” Seru anak dengan pakaian yang sudah berantakan akibat berkejaran tadi.
       
      “Rambutnya panjang sekali! Tapi sayang kusut! Ikatannya berantakan! Sini aku rapihkan!” anak perempuan dengan tatanan rambut unik dan hiasan warna-warni itu menyentuh rambut panjang Soru.

      “Hey, Hime, tunggu dulu dong! Aku kan juga mau lihat dia!” Sahut anak laki yang lain.
      Soru yang menjadi rebutan hanya diam dengan mata bengkak karena menangis lama. 

      Ia tidak tahu harus apa dan tidak mengenal mereka. Soru yang menangis dihampiri anak perempuan seusianya. Anak itu sangat ramah hingga bisa membuat tangis Soru berhenti. Soru menurut ajakan anak itu. Anak itu Sumire Ichioka. Dan Akashi. Sumire membawanya kesini, kelapangan ini. Lapangan yang ramai dengan anak-anak seumurannya, anak-anak yang sedang mengerubunginya seperti barang baru.

      “Lihat perbuatanmu, kita sudah salah membawanya kesini” Akashi hanya memperhatikan kerubungan itu.

      “Biarkan saja! Dengan begini kan Soru akan memiliki banyak teman dengan cepat” Sumire berbinar.

      Kemudian hanya ada suara rebutan teman-temannya. Apa lagi yang mereka perebutkan selain Soru.

      “Akashi-kun lihat! Rambutnya sudah lebih rapi sekarang!” Hime menarik Soru kehadapan Akashi. Akashi hanya diam. Soru memalingkan wajah ke Hime bingung. Memang apa lagi yang bisa dilakukan mahluk aneh seperti Akashi?

      “Soru, biarkan dia. Akashi memang miskin ekspresi!” Soru tertawa lepas. Tidak ada beban dalam tawanya.

      “Soru, setelah ini kau akan tinggal dengan Akashi kan?” tanya Hiro setelah tawa Soru reda. Akashi melotot, ekspresi yang jarang datang padanya.

      “Iya! Tentu saja! Orangtua Akashi kan memang sudah lama ingin memiliki anak perempuan! Iya kan, Akashi-kun?” Sumire menyikut pelan lengan Akashi.

      Akashi memutar mata. Mengapa ia bisa memiliki sahabat dengan sifat-sifat aneh seperti ini? Dan mengapa sampai sekarang ia masih mau bersahabat dengan mereka? Merepotkan!
---------------
Soru POV

     “Aku pulang” Akashi menyapa seisi rumah tapi terkesan menyapa dirinya sendiri. Dia memang aneh.

      Sosok tinggi dengan rambut sebahu muncul dari ruangan bertirai hijau bersama seorang pria dibelakangnya. Aku yang dari tadi hanya bisa diam, semakin diam melihat kedua orang tua Akashi. Aku ingin menangis.....

      “Manis, siapa namamu?” Tangan halus membelah rambutku yang menutupi wajah. Terimakasih Hime sudah merapihkan rambutku ditaman tadi. Hime adalah teman Akashi yang paling cantik dan suka sekali dandan! Tapi dia baik. Oops, aku jadi mengabaikan pertanyaan ibu Akashi.

      “Soru” kulihat mata wanita ini berbinar sekali ketika mendengar namaku.

      “Akashi, kau menculik anak siapa ini?!” Ayah Akashi-kun tiba-tiba berteriak. Akashi-kun memunculkan kepalanya dari balik pintu kamar. Wajah datar itu tidak tertinggal.

      Akihabara

      Akihabara? Ya Tuhan! Akashi cepat kembalikan dia ke orangtuanya! Antarkan dia pada tuan Akihabara sekarang juga!” aku tidak mengerti apa maksud percakapan kedua lelaki ini.

      “Suruh saja dia pulang sendiri” kepala Akashi-kun menghilang kemudian.

      “Hey, apa maksudmu?!” teriak ayah, mmm, tuan ayah lagi.

      “Stasiun!” ya, aku memang ditemukan Akashi disana.

      Orangtua Akashi-kun bertatapan bingung. Kemudian berlanjut menatapku masih dengan bingungnya. Aku juga jadi membalas tatapan mereka dengan bingung. Sekarang aku mengerti kenapa Akashi-kun bersifat aneh. Aku juga jadi mengerti kenapa ditaman tadi dia tidak mau aku ikut dengannya. Dia tidak mau menularkan sifat aneh keluarganya padaku. Harusnya aku ikut Tenko saja atau Hiro anak lelaki yang lebih menyenangkan. air mataku jatuh, Ibu....

      “Manis, kenapa menangis?” tangan ibu Akashi-kun berusaha menghapus air mataku yang jatuh. Jangan tuan ibu, biarkan saja bebanku ini jatuh....

      “Anakku manis biarkan saja kakak mu itu. Dia memang aneh. Ayah saja lupa pernah membuatnya dengan campuran apa” sejujurnya ini adalah kalimat yang cukup lucu.

      Anak? Ayah? Kenapa dengan mereka ini? Aku ini orang asing, seharusnya sikap mereka seperti Akashi-kun! Aduhh,

     Tubuhku terguncang kecil. Tuan ibu memelukku! Disusul tuan ayah. Ya Tuhan, mereka tidak waras! Aku tidak bisa bernafas!
  
     “Mulai sekarang Soru adalah bagian dari kami. Kau adalah anak kami, adik Akashi”
---------------
      3 hari berlalu. aku tidak tau siapa mereka tapi mereka mau menerimaku. Meski sikapnya berbeda dari ayah dan ibu, aku yakin Akashi-kun tidak jahat. Dia hanya belum terbiasa menjadi seorang kakak. Itu kata ayah.

      “Soru, sudah siap belum? ayo kita berangkat sekarang” panggil ibu yang tangannya sibuk mengubek isi tas.

      Hari ini aku akan pergi ke Dokter. Aku tidak tau akan diapakan. Aku sudah bilang pada mereka kalau aku tidak sakit, tapi mereka memaksa membawaku ke Dokter. Kemarin-kemarin mereka juga membawaku ketempat yang penuh dengan bapak-bapak berpakaian sama yang ku ketahui kalau mereka adalah Polisi. Aku juga tidak tau kenapa dibawa kesana, aku kan tidak ambil apa-apa punya orang.

      Ditempat Polisi itu aku ditanyai hal-hal aneh. Dari semua pertanyaan itu aku hanya bisa menjawab siapa namaku. Aku takut dikurung seperti orang-orang berwajah seram disana karena tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Tapi, Polisi ternyata baik. Aku tidak dikurung, ia tidak memarahiku karena aku hanya bisa menjawab satu pertanyaan. Bahkan Polisi itu mengusap wajah serta rambutku. Aku dan Polisi sekarang berteman.

     Pulang dari rumah Polisi aku cerita pada Akashi-kun. Akashi-kun hanya merespon dengan satu kata, Aneh. Berteman dengan Polisi dibilang aneh oleh dirinya. Ih, Akashi-kun sendiri jauh lebih aneh!

Author POV

Akihabara Byouin, Kagawa-Ishi Room.

      “Jadi bagaimana, Dok?” Suara tenang Ayah disertai tatapan serius.

      “Soru mengalami shock yang cukup hebat hingga menyulitkan ia untuk mengingat apa yang terjadi ada dirinya.”

      “Tapi, ia ingat namanya sendiri” Ibu mengerutkan kening.

      “Ya, memang. Amnesia jenis ini memiliki tingkat kepikunan sedang. Pasien masih bisa mengingat sebagian kecil dalam dirinya,”
 
      Ayah dan Ibu berpegangan tangan, wajah ibu berubah sedih.

      “,Untuk kebaikan pasien, jangan berikan ia pertanyaan yang membuatnya berfikir keras. Tuan dan Nyonya bisa beri pelatihan motorik dengan menyekolahkannya. Semoga dengan cara itu dapat merangsang ingatannya lagi” jelas Dokter Kagawa yang menangani kasus kesehatan Soru.

     Arigatou Kagawa-shii

      Ayah dan Ibu keluar ruangan setelah menjabat tangan Dokter Kagawa. Soru diluar sedang berbincang dengan salah satu Suster. Ditangannya sudah ada permen lollipop berukuran sedang.

      “Ibu lihat, kakak suster memberiku ini! Katanya aku ini anak manis dan baik” Soru terlihat sangat bahagia. Ia menjilati setiap bagian lollipop itu seperti untuk pertama kali. Atau memang itu yang diingatnya.

      “Kau memang anak manis dan baik Soru. Manis seperti ibu,”

      “, Dan baik seperti ayah!” Reiichirou memotong ucapan Kayako. Soru tertawa sedangkan Kayako mencebik. Mereka seperti muda-mudi saja.

      “Terimakasih Sus, sudah menjaga anak kami” Kayako menyudahi rajukannya. Suster itu mengangguk ramah.

       Mereka keluar Rumah Sakit dengan bergandeng tangan. Tidak lengkap karena tidak Akashi. Dan jangan berharap Akashi akan mau melakukan ini.

     “Soru-chan, mulai besok kau akan bersekolah ditempat yang sama dengan Akashi. Bagaimana?” Kayako memecah hening.

     “Serius ibu? Aku mau! Disana ada Hime, ada Tenko, ada Hiro, dan ada Sumire!” Soru tidak jadi menggigit lollipop terakhirnya.

      “Bukan hanya mereka, disana juga ada teman lain” Reiichirou menambahkan.

      “Baiklah, besok kau bangun pagi untuk bersekolah. Kau akan berangkat bersama Akashi-kun

      “Kenapa tidak dengan ibu atau ayah? Akashi-kun pasti akan berangkat bersama Sumire”

      “Ibu dan ayah hanya akan mengurus datamu Soru-chan. Apa masalahnya? Kalian bisa berangkat bersama” Reiichirou menghibur anak barunya.

      Soru tidak menjawab dengan kalimat, ia memeluk kedua orang tua barunya dengan erat. Tentu saja ia akan mendapat balasan yang lebih erat.

      “Ayah, Ibu, aku tidak bisa bernafas....”
---------------

      “Akashi-kun, tunggu aku, kenapa kau jalan cepat sekali sih? aku kan masih kecil tidak bisa jalan secepat dirimu!” nafas Soru naik turun akibat mengejar kakak angkatnya.

     Hari ini, hari pertama Soru sekolah. Ibu dan Ayah memasukkan Soru ke sekolah yang sama dengan Akashi serta teman-temannya. Soru sangat senang hingga selama diperjalanan mulutnya terus mengeluarkan pertanyaan, yang hanya dijawab oleh Akashi dengan diam. Sesekali dengan Ya atau Tidak. Tidak ada tatapan saat menjawab pertanyaan adik kecilnya, jalanan dirasanya jauh lebih menarik.

      “Akashi-kun, mana sepedamu?” suara Sumire. Anak perempuan yang menyebabkan Soru ada disini sekarang. Berada ditengah kehidupan mereka.

      “Ayo jalan. Sudah telat” Akashi tidak menghiraukan pertanyaan Sumire. Sudah kubilang, jalanan memang jauh lebih menarik dibanding harus menjawab pertanyaan. Akashi yang sudah berjalan duluan meninggalkan sosok tubuh mungil yang tadi tertutup oleh badannya.

      “Soru-chan!!!,” Sumire memeluk Soru. Soru menyambutnya, dan mereka berloncatan dalam pelukan.

      “Kau bersekolah? Kau akan sekolah dengan kami?” Lepas Sumire dan menggandeng Soru berjalan berdampingan menuju sekolah.

     Soru mengangguk, rambutnya bergoyang. “ Ayah dan ibu bilang sekolah baik untukku.”

     “Tuan dan Nyonya Miyanoshita memang benar. Disana ada banyak teman!” Sumire tertawa.

      “Kalian berdua, bisa cepat tidak? Aku tidak mau dihukum hanya karena kalian asyik bercerita sepanjang jalan” Akashi menegur dua gadis kecil itu. Hidupnya akan lebih repot sekarang. Satu gadis kecil yang gigih saja sudah sulit ditambah Soru anak pendiam yang tidak bisa diam. Ia akan semakin miskin ekspresi karena depresi.

      Sebelum ada Soru, Akashi dan Sumire memang selalu berangkat sekolah bersama dengan sepeda. Tidak hanya itu, mereka memang selalu bersama. Mereka teman bermain sejak kecil. Sumire sudah seperti adik kecil Akashi. Tapi mengapa Akashi canggung dengan Soru? Bukankah Soru juga adik kecil Akashi?
---------------

      “Akashi-kun, tunggu aku, kenapa kau jalan cepat sekali sih? aku kan masih,”

     “Kau sudah 15 tahun” Akashi memotong ucapan adik kecilnya yang sudah beranjak remaja.

     “Dan kau 16 tahun! Tetap saja kecepatan jalanku kalah denganmu, kau ini remaja tua!” Soru 
bersungut-sungut. Jalannya jadi lebih cepat dari kakaknya.

     “Soru-chan!!!” Sumire memeluk Soru. Soru menyambutnya, dan mereka berloncatan dalam pelukan. Ritual pagi hari sebelum berangkat sekolah yang mereka mulai sejak 9 tahun lalu. Akashi yang melihat ritual ini hanya, tidak peduli dan terus berjalan. Masih sama seperti dulu, jalanan jauh lebih menarik.

      Akashi selalu berjalan didepan mereka. seperti tidak peduli namun sangat khawatir jika terjadi apa-apa pada kedua gadis yang sudah seperti adiknya. Terlebih pada Sumire. Kedua orangtua Sumire wafat saat akan pulang dari bertugas, ia diasuh oleh adik dari mamanya. Dengan kata lain Tantenya. Hari-hari pertamanya saat datang ke Akihabara sangat kelam. Lebih menyedihkan dibanding Soru.

     Sumire tidak menangis. Hanya ada sisa genangan curam. Matanya cekung dan menghitam, tubuhnya kurus dan sangat pendiam. Dua orang yang awalnya pendiam saling bertemu, mengubah salah satunya kembali ke sifat semula. Mendapat ruang menunjukkan diri. Sumire bangkit dari sedihnya. Ia menjadi anak yang periang dan gigih. Semua keinginannya harus bisa terpenuhi! Akashi adalah orang yang paling dekat dengannya. Akashi sudah dimiliki oleh Sumire.

      “Pagi, Tenko-chan, Hime-chan!!” suara ceria Soru membelah pagi serta ketenangan kelas X-3.

      “Soru-chan, kau tidak menyapaku?,” Kata Hiro dengan wajah memelas.

      “Baiklah, tak apa. PAGI AKASHI-KUN...!” Hiro gila! Bisa-bisanya dia berteriak seperti itu diruang kelas pagi hari! Hanya karena tidak disapa oleh Soru, Hiro langsung berpindah selera. Hiro gila, Hiro tidak waras!

      Akashi melewati mereka menuju tempat duduknya. Sialnya, ia duduk dengan Hiro. Mahluk tidak waras yang baru saja berubah selera dengan menyapanya itu adalah chairmate-nya.

      “Kasihan sekali kau Mitsuhiro Toyomura. Tidak ada yang sudi menyapamu” sinis Hime.

      “Dan membalas sapaannya” sumire sarkas melenggang ketempat duduk.

Jam Olahraga

      “Aduh panas sekali sih! aku bisa hitam kalau begini!” Hime berlaga mengusap-usap peluh yang bertengger didahi dan lehernya.

      “Bawa saja payung kalau tidak mau hitam!” sanggah Tenko dengan nada sinis.

      “Tenko, kau norak sekali! Tidak pernah dengar sunblock ya?” Hime menarik bibir atasnya, menghina.

      “Apa kau bilang? Aku norak?! Kau lebih norak tau!”

      Jika Soru, Sumire, dan Hiro hanya bisa geleng kepala melihat dua jenis cewek ini beradu mulut. Apa jadinya dengan Akashi? Huh, dia bahkan berusaha tidak emngetahui apa yang sedang terjadi pada  si tomboy Tenko dan Feminin Hime.

      “Soru-chan...., Pulang sekolah nanti ikut denganku ya? Aku membawa ninja-ku. Dijamin kau tidak akan kepanasan dan berlama-lama dijalan” Mingu menyela diantara Soru dan Akashi.

      Hwang Mingu memang anak sombong disekolah mereka. Anak dari donatur utama yayasan sekolah. Reputasinya buruk, kelakuannya tengil dan terlampau kasar jika keinginannya ditolak. Sifat yang setara dengan Sumire hanya saja Mingu menghalalkan segala cara. Sudah sebulan ini dia mendekati Soru, tapi diacuhkan oleh adik Akashi itu.

      Tidak seperti saat mendekati gadis lain yang jika ditolak ia akan segera bertindak. Kali ini, Mingu benar-benar seperti kehilangan taringnya. Atau tepatnya menyembunyikannya. Lagi pula, jarang ada gadis yang menolak tawaran Mingu. Soru benar-benar mencari perkara!

      “Sudahlah, kau tidak perlu setegang itu. Kau tau sendiri kepribadian Soru adalah gabungan dari kepribadian kita semua” Hiro memperhatikan gerak-gerik Soru yang berusaha menghindari Mingu.

      “Ya, kali ini Hiro benar. Soru bisa saja setomboy dan seacuh Tenko” kata Sumire.

      “Segila Hiro, segigih Sumire” lanjut Tenko.

      “Dan jangan lupa! semanja, semanis dan sefeminin aku!” Hime menyerukan pendapatnya sendiri. Menyombongkan dirinya sendiri.

      “Aku tidak setuju dengan yang terakhir” Sinis Tenko. Diiyakan dengan anggukan kepala oleh Hiro dan Sumire.

      “Soru akan sangat menyeramkan jika ia secentil Hime” Tenko bergidik ngeri.

      “Tenko tampan, diam kau! Soru itu emnyeramkan jika ia sudah sediam Akashi, kau tau?! Bahkan aura Akashi akan kalah jika dibandingkan Soru yang sedang diam!” Hime benar-benar protes dengan suara melengking.

      Semua temannya langsung diam, mengingat hari dimana Soru benar-benar mengunci mulutnya. Gerak-geriknya yang terbatas, dan hanya bicara dengan isyarat mata. Mata yang tajam. Kemudian dengan bersamaan melirik ke arah Akashi yang sudah menatap mereka dengan tatapan datarnya. Amat datar hingga membuat orang yang melihatnya merinding.

 Sumire POV

            “Ya, kali ini Hiro benar. Soru bisa saja setomboy dan seacuh Tenko” kata-kata yang keluar dari mulut Hiro memang benar. Soru memang berbeda. Ia luar biasa.

      Aku tidak mengerti kenapa ia bisa seluar biasa itu. Hingga, Akashi-kun yang dahulu selalu memperhatikanku, selalu peduli padaku, hanya milikku, kini lebih peduli pada anak kecil yang kami temukan didepan stasiun Akihabara.

      Soru bodoh. Ia tidak menyadari semua perlakuan Akashi-kun! Yang ia tau hanyalah Akashi-kun adalah kakak yang paling miskin ekspresi. Aku benci kenapa perasaan tersaingi ini muncul. Aku menyanyangi Soru, aku yang membawanya pada kehidupan kami. Sahabat-sahabatku...

      Hiro, Tenko, Hime, mereka lebih menganak emaskan Soru yang mereka temui belakangan. Aku tidak pernah merasakan kepangan istimewa dari tangan Hime seperti Soru, Keisengan Hiro yang membuat tertawa dan melambungkan rasa cita atau keacuhan Tenko yang sebenernya sangat overprotective. Hiro dan Akashi, mereka satu-satunya lelaki di kelompok kami. Dan mereka hanya memusatkan perhatian pada Soru! Aku sudah bukan prioritas mereka lagi.....

      Akashi-kun benar, seharusnya aku tidak membawa Soru kesini......
---------------

      “Akashi-kun, lihat! Bukankah itu mobil atasan ayah?” Soru menunjuk mobil BMW hitam yang melintas dijalan komplek rumah mereka. Langkah mereka terhenti, isi kepala mereka beradu. Rahang Akashi mengeras sedangkan Soru dan yang lain berwajah bingung bercampur cemas.

      “Ayo, kita harus segera melihat kedua orangtua kalian!” Seru Hime menyudahi pertumpahan pikiran dalam otak teman-temannya.

      Bukan masalah jika Bos ayah datang berkunjung kerumah. Ini adalah suatu kehormatan untuk keluarga Miyanoshita. Tapi, Bos ayah datang dengan iringan yang tidak biasa. 2-3 mobil BMW yang sama mengikutinya dibelakang. Tidaka da deru ramah yang dipancarkan mobil-mobil itu.

      Sahabat-sahabat itu berkejaran, siapa duluan yang akan sampai untuk emlihat keadaan. Mereka tidak peduli itu orang tua siapa, yang jelas mereka  sudah berbagi apapun sejak kecil. Mereka adalah sahabat.

      “Ayah, Ibu kalian baik-baik saja?” Soru tiba paling awal. Nafasnya tercetak jelas, peluhnya mengiringi ketidak seimbangan nafasnya.

      Disana, diruang tamu itu duduk ayah dan Ibu disofa panjangdengan raut wajah tenang. Sebelah kanan Soru berdiri, Bos ayah yang bertubuh gempal duduk bak raja kehormatan. Soru tergeser dengan tiba-tiba, Akashi datang dengan cara yang sama, hanya saja ia bicara melalui wajah bukan mulut seperti Soru tadi.

      Soru semakin tergeser ketika Hiro, Tenko, Hime serta Sumire datang. Masih dengan cara yang sama. Peluh mereka bagai riasan wajib saat akan showcase.

      “Tuan dan Nyonya Miyanoshita, kalian baik-baik saja?” seru Hime yang memang tidak pernah bisa diam.

      “Apa yang terjadi?” Tenko dan Sumire hampir bersamaan.

      “Ayah, Ibu, emnantumu datang untuk menolong!” seeruan terkahir dari Hiro yang langsung dihujani tatapan oleh ketiga sahabatnya serta Bos ayah.

      “Kau gila, hah?! Disaat-saat ebgini masih saja menggombali Soru!” bentak Tenko.

      “Sudahlah Tenko. Diotaknya memang hanya ada Soru. Percuma kau memarahinya hingga kau berubah jadi feminin seperti Hime, itu tidak akan merubah apapun” Lepas Sumire.

      “Heh, apa katamu?! Jangan samakan aku dengan si centil Hime ya!” Tenko tidak terima.

      “Kau bilang aku apa? Centil?! Dasar wanita tampan!” Hime lebih tidak terima. Dan terjadilah cekcok mulut diantara mereka seperti saat jam olahraga.

      “Sudah, kenapa kalian jadi bertengkar?” Soru berusaha melerai, justru tubuhnya terombang-ambing.

      “Soru-chan, jangan ikut campur!” protes Hime yang masih berusaha menjambak rambut cepak Tenko.

      “Betul kata Hime. Soru-chan bisa terluka” Hiro menarik Soru.

      “Ini semua gara-gara kau, tau!” Sumire kesal.

      “Loh, kok aku?” Hiro bertampang bodoh.

      Cekcok kedua dilakoni oleh Hiro dan Sumire. Soru lelah melihat kelakuan sahabtanya, Akashi hanya menonton saja. Kemana sih pikiran remaja ini? Apakah impulsnya memang lambat menerima sesuatu?

      “Kalian semua, hentikan!!” suara tegas lelaki. Bukan suara ayah...

      Sahabat-sahabat itu menghentikkan cekcok mereka dengan pose orang jambak-jambakkan dan saling menyalahkan. Hening.

      “Terimakasih tuan dan nyonya Miyanoshita. Saya pamit dulu” Bos Ayah bergegas keluar dan menaiki tahta berjalannya. Soru menubruk diantara ibu dan ayah. Teman-temannya mengikuti disekitar sofa.

      “Kenapa Bos datang kesini ayah?” Soru cemas.

      “Tidak ada apa-apa. bos hanya berkunjung” jelas ayah tanpa gairah.

      “Terimakasih untuk hiburannya. Kalian sangat lucu tai. Ibus ampai tidak bisa menahan tawa” sindir ibu. Wajah mereka meemerah mengingat kejadian tadi.

      “Ya, ibu benar. Tapi properti pohon dibelakang sana sepertinya lupa memakai kostum” ledek ayah. Mereka menatap Akashi yang masih betah ditempatnya. Kemudian ruangan penuh dengan tawa. Akashi tidak. Akashi tau, ayah dan ibunya jelas sedang berbohong.
---------------
      2 tahun berlalu ssejak kedatangan Bos ayah kerumah kami. Semuanya berubah. benar-benar berubah.

      “Akashi-kun, memandangi surat dari Soru lagi?” Sumire memecah lamunanku. Aku mengiyakan dengan senyum. Sama sekali tidak bergairah untuk bicara. Sifat lamaku yang sudah mendarah daging. Sifat lamaku yang juga sebagai penyebab Soru pergi selamanya dari hidup kami.

      “Akashi-kun maafkan aku, ini semua salahku” Sumire menundukkan kepalanya, membatasi orang untuk melihat kristal bening gugur dari matanya. Aku sudah lelah memberitahu anak ini kalau yang terjadi pada kami bukanlah salahnya. Aku juga tidak tau ini salah siapa dan harus menyalahkan siapa.

      “Aku berharap Soru kembali pada kita” Sumire beranjak dari tempatnya, menyisakan aku yang selalu berkecamuk dalam fikiran.

      2 tahun lalu saat atasan Ayah mengunjungi rumah kami, kami tahu ada sesuatu yang tidak beres. Kami tiba dirumah saat percakapan selesai, kami tidak tau apa yang mereka bicarakan. Ayah dan ibu menyembunyikannya. Tapi mereka tidak bisa membohongiku.

      Esoknya aku, Soru, Sumire, Hiro, Tenko serta Hime bermain ditaman sore. Meski tdak ada hal berbeda yang aku lakukan, aku tetap menikmati semuanya. Mereka sumber dayaku.

      Tapi, sumber dayaku mulai melangka.

      “Soru perhatikan ini! Kau kenapa sih melamun terus?!” Sumire menghentak lengan Soru yang sejak kejadian kemarin terus melamun.

      “Maaf Sumire-chan” Soru menjawab pasrah.

      “Kalau mau melamun jangan disini! Kau bisa merusak tugas kelompok kami!”

      “Sumire-chan kau marah mulu dari tadi. Sedang bulanan ya?” Soru mencoba jenaka. Ia memaksakan diri. Sumire tidak suka. Wwajahnya merah padam. Ia berdiri kasar dan menudingkan telunjuk didepan wajah Soru. Soru tercengang, kami kaget. Ini bukan Sumire kami.

      “Kau! Kau anak jalanan tidak tau diri! Kau ambil semuanya dan merubah keadaan! Kau menyulitkan kami!” nafas Sumire naik turun, air matanya menggenang. Soru hanya memandang bingung.

      “Sumire Ichioka, apa maksudmu?!” Hiro membela Soru karena Soru hanya diam.

      “Tidak sepantasnya kau bicara begitu hanya karena masalah sepele!” amarah Tenko berbeda ketika ia adu mulut dengan Hime. Hime, ah anak yang biasanya cerewet itu kini diam. Hime tidak percaya akan perlakuan Sumire barusan. Aku perhatikan sampai mana kejadian ini akan berlangsung.

      “Kalian semua! Aku benci kalian! Aku benci Soru! Sangat membenci Soru!” Sumire berlari menjauh dari kami. Larinya tidak stabil. Tangisnya jatuh, tangis sedih namun bukan piluan pengundang simpati. Sumire kalah dengan egonya, aku kecewa.

      “Akashi-kun, kenapa hanya diam?!” Soru mengguncang badanku. Apa maunya anak ini?! Sudah dimaki malah diam saja sekarang menyuruhku mengejar orang yang sudah mencacinya.

      Aku acuhkan. Lantas Soru berlari mengejar Sumire disusul oleh Hime, Tenko dan Hiro. Mengapa ini jadi dramatis sekali?! Argh!
---------------
      “Dari mana saja kau?” hadangku saat tangan Sumire baru menyentuh gagang pintu.

      “Sumire membenciku”`Soru mengatakan itu dengan ekspresi dingin. Ia pandai meng-copy. Lebih pandai dari pemilik aslinya. Tatapan kosong itu sangat menusuk. Aku akui, aku tidak sanggup berlama-lama denagnnya dalam keadaan seperti ini.

      Ia masuk rumah dan mengacuhkan aku. Ayah dan ibu yang melihat kami cemas dan bertanya dengan isyarat. Aku hanya menatap mereka, mereka mengagguk. Mereka orang tuaku yang hebat. Mereka mengerti bahasa mataku.

      “Soru-chan, apakah kau sudah dirumah??!” ketiga sahabatku datang. Pasti seharian ini mereka mengejar Soru yang mengejar Sumire. Mereka sangat melindungi satu sama lain.

      “Kalian pulanglah ini sudah malam. Terimakasih sudah menjaga Soru” hanya kalimat itu dan mereka menegerti. Wajah mereka sangat sarat kekhawatiran. Aku merasa tertampar, aku tidak bisa menjaga adikku sendiri. Tidak bisa mempertahankan Sumire yang, ah sudahlah.
---------------
       Kami tidak pernah berinteraksi dengan Sumire lagi. dia menghindari kami padahal kami masih mau berteman dan memaafkan dia. kami masih mencarinya. Soru juga sudah tidak mengejar Sumire lagi untuk membujuknya kembali pada kami. Soru bukan menyerah. Soru berubah, ia jadi seperti kembaranku. Diam dan dingin tapi tidak nyatanya.

      “Akashi-kun, besok aku mau kita semua berkumpul ditaman sore” to the point, tidak menungguku untuk menjawabnya meski hanya dengan anggukan.

Taman Sore

        Berkumpul tanpa Sumire. Entah sudah kali keberapa. Ditempat ini, sumire meledakkan semua amarahnya pada Soru.

      “Sahabatku yang baik, peduli dan terlampau lupa kewarasan diri. Kalian akan senang bukan jika aku berhasil?” mereka bertiga mengangguk. Baru kali ini aku melihat wajah serius mereka.

      “Apalagi aku sebagai anak jalanan, jika berhasil bukan hanya kalian yang bangga. Keluargaku pasti juga bangga, walau aku tidak tau dimana mereka. Besok aku akan pindah ke Indonesia. Ku dengar disana warganya juga ramah seperti disini” Mereka tercengang. Jadi ini yang dibicarakan Soru, ayah dan ibu beberapa waktu lalu?

      “Aku sudah membicarakan ini dengan ayah dan ibu. Mereka setuju” Soru berbohong. Ini idenya, ayah dan ibu hanya terpaksa menyetujui. Entah apa alasan yang ia beri. Huh, Soru siapa yang mem-provokatorimu?!

Tokyo International Airport

      “Ku kira kita akan bersama sampai tua, mengapa hanya sampai umurmu 15 tahun, Soru-chan?” Hime berderai airmata, gadis yang paling menjunjung tinggi harga diri dan kefemininannya kini tidak peduli lagi.

      “Hime kau jangan menangis, kau jelek sekali dengan riasan luntur seperti itu” Tenko, selalu begitu.

      “Kau sendiri juga menangis wanita tampan” kemudian mereka menangis kencang sembari memeluk Soru.

      “Kau tumben tidak meramaikan suasana dengan ikut menangis. Biasanya kau kan memanfaatkan keadaan ini untuk bisa memeluk Soru” aku melirik Hiro, ia menatapku.

      “Sesungguhnya aku sudah tidak kuat lagi emnahan ini Akashi-kun” ia memelukku dari samping. Hiro gila! Homophobic menjijikkan! Mahluk Yaoi tidak berpengalaman! Aku menyesal menegurnya.

      “Ayah, ibu, terimakasih untuk waktu 9 tahunnya. Sahabatku, aku akan berusaha kembali pada kalian”

      Mereka kembali berpelukan. Ibu dan ayah tidak mau kalah dengan remaja-remaja labil ini. Soru tidak emnangis padahal dia paling tidak tahan dengan adegan pilu. Aku tau apa yang dikirkannya. Ia pasti sedang kesulitan bernafas akibat pelukan erat, typically Soru.

      “Akashi-kun,  meski kau orang yang paling miskin ekspresi. Kau memang tetap yang paling miskin ekspresi” Soru tersenyum. Kalimat perpisahan macam apa itu? Otaknya sudah tertular Hiro!

      Sebelum benar-benar menghilang dari hadapan kami, Soru memberiku surat. Dan kalimat terakhir yang paling kuingat darinya adalah,

      Aku akan berusaha kembali pada kalian.

      Ada yang memaksa Soru meninggalkan kami.
---------------
Soru POV

      Kalian percaya anak kecil yang ditemukan menangis kencang depan stasiun Akihabara adalah calon ketua Yakuza? Ya, sulit.

      Yakuza, Mafia, Penjahat yang selalu dipandang rendah oleh orang namun ditakuti setengah mati. Elite dan terkadang tidak terlihat. Kami Yakuza, kami terlihat, dan kami jahat. Pada waktunya.

      “Soru-chan, melamun lagi?” suara Mingu.

        Kau tidak salah dengar, Mingu yang membuyarkan lamunanku barusan adalah Mingu yang sama, yang suka mengangguku disekolah. Ah, Akihabara Junior High School aku merindukannya. Rindu dengan sahabat-sahabatku yang suka lupa akan kewarasannya, rindu dengan ayah dan ibu.

      11 tahun lalu aku yang menangis kencang depan stasiun Akihabara ditolong oleh gadis gigih berkepang dua, Sumire dan lelaki yang paling miskin ekspresi, Akashi. Akashi menjadi kakakku, ayah dan ibunya mengangkatku sebagai anak, membuat namaku Soru Anatagawa menjadi Soru Miyanoshito. Mereka membantuku mengingat asl-usulku, mereka bilang aku terlalu shock hingga tidak ingat apa-apa.

      Selain itu aku juga bertemu Hiro, Tenko, dan Hime. Mereka sangat baik, mereka selalu menghiburku dengan pertengkaran mulutnya, kuharap Tenko sudah menjalin hubungan dengan Senpai favoritnya di eskul Judo. Hiro yang jika ku abaikan beralih pada Akashi-kun. Mereka terlihat seperti Yaoi tapi Hiro menyukaiku, hahahha, aku jadi besar kepala.

      Bos ayah yang merubah ini. Bukan Sumire. Bos ayah mengetahui asal-usulku bos ayah adalah ayah Hwang Mingu, kakak ipar ayahku. Menurut kalian, apakah akting amnesia-ku bagus? Hahah, percayalah aku tidak mengada-ada dibagian itu.

      Sebelum aku menangis didepan stasiun, ayah dan paman sempat beradu mulut hingga memamerkan samurai mereka. Paman menyetujui aku sebagai penerus Yon Yakuza sementara ayah menolak keras. Ia hanya mau aku menjadi wanita anggun bukan wanita tangguh. Jabatan penerus diberikan pada Hwang Mingu tapi paman bersikeras aku sebagai penerus utama. Aku takut, aku kabur dari rumah sambil menangis dan tau0tau saja aku sudah didepan stasiun tanpa mengingat apapun kecuali namaku.

      Dan kini aku memegang saham Yon Yakuza yang berada di Indonesia. Mingu, mengrus saham di Jepang. Khususnya daerah Akihabara.

      “Mingu-kun, bisakah aku minta tolong sesuatu?” baguslah, karena aku tidak menyukai penolakan.
---------------
Hiro POV

      2 tahun. Bukan waktu singkat hidup tanpa Soru. Serasa nyawa kami hilang begitu saja. Tidak pernaha da adu mulut antara Tenko dan Hime lagi, tidak ada yang mengabaikan sapaanku lagi, tidak ada persaingan dingin antara Soru dan Akashi.

      Sumire penyebab semua ini. Dia iri pada Soru yang menjadi adik angkat Akashi. Lelaki yang dia sukai. Aku mengerti kenapa Sumire melakukan itu, tapi bukankah dia yang membawa Soru pada kami

      “Hiro-kun, ini bukan salah Sumire” suara Tenko. Aku tau dia setengah hati emnagatakan itu.

      “Aku hanya kangen pada Soru” senyumku tipis.

      Sumire tidak tau kebenarannya. Dia tidak tau kalau dialah yang dicintai Akashi. Ouch, aku teringat dipertemuan terakhir kami Soru memberi surat pada Akashi. Surat yang tidak pernah kami tau isinya.

      “Tenko, Hiro, Akashi cepat keruang eskul Judo!” Hime datang dengan lengkingan khasnya. Nafasnya naik turun akibat berlari dan lantai dasar kelantai 3. Kami bergegas berlari, sepertinya amat gawat. Akashi juga tidak seperti biasanya.

      “Sumire kau juga harus turun!” teriak akhir Tenko. Aku bahkan lupa ada mahluk itu dikelas ini.

      Kami datang dengan cara persis seperti ketika atasan ayah Akashi berkunjung kerumah. Disana, ada Mingu dan Soru. Ya Tuhan apa yang dilakukan bedebah itu pada gadisku? Kenapa mereka bisa bersama? Kenapa Soru ada disini?!

      Bukk...

      Haus tinjuku belum terbalas, Akashi sudah melakukan apa yang ingin aku lakukan. Ajaib, aneh, gila! Soru tidak bergeming. Wajahnya datar! Sama sekali tidak terkejut atau takut, begitupun dengan Mingu. Pukulan Akashi seperti hanya angin yang menerpa wajahnya. Sumire melihat kejadian ini, ia mau membalikkan diri dan pergi. Dia amsih emnyimpan api cemburu pada Soru.

      “Sumire-chan...  Panggil Soru. Ia menghampiri Sumire.

      “Maukah kau memelukku dan loncat bersama seperti dulu lagi?” mereka diam. Sumire menatap Soru yang sudah membuka kedua tangannya. Soru emnatap lembut namaun tajam.

      Sumire menubruk sambutan Soru “Soru-chan maafkan aku”

      “Kalian salah paham, hahahah. Aku tidak akan menyakiti adik sepupuku sendiri” Mingu memecah haru yang sedang berlangsung.

      Mereka keluar dari ruangan dengan rasa canggung, bingung tapi juga bahagia. Bersamaan dengan bunyi bel pulang sekolah, mereka akan menemui ayah dan ibu.

      Surat yang selama ini ditatap Akashi sebagai pengganti Soru, surat yang langsung diberikan padanya dihari kepergian Soru menuju Indonesia dua tahun lalu berisikan lambang Yon Yakuza.

The End 

Dedicated to : 1. Houkago Japanese Club SMA N 76 JAKARTA
                            2. MADING 76 















Salam Cogan.